RSS FEED

Kisah Ayah Rasulullah Abdullah bin Abdul Muthalib



Bismillahirrahmanirrahiim
Abdullah bin Abdul Muthalib (545-570) adalah ayah dari Nabi Muhammad SAW. Ia adalah putra dari Shaiba bin Hasyim (`Abdul Muthalib), dan menikah dengan Aminah binti Wahab. Abdullah meninggal dalam perjalanan kafilah antara Madinah dan Mekah karena sakit, pada usia dua puluh lima.

Nama lengkapnya meliputi nama " 'Abdullah ". Allah adalah kata untuk "Tuhan" dalam bahasa Arab dan berhubungan dengan kata untuk "Allah" dalam bahasa Aram dan bahasa Semit lainnya. Abdullah berarti "hamba Allah", "budak Allah" atau "hamba Allah".

SILSILAH

Abdullah bin 'Abdul Muthalib (Shaiba) bin Hashim (Amr) bin Abdul Manaf (Al-Mughira) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka `b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fahr (Quraisy) bin Malik bin An-Nadr (Qais) bin Kinana bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma `ad bin Adnan.

Meski meninggal dalam usia muda, Abdullah bin Abdul Muthalib adalah termasuk benang merah dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Karena dari benihnyalah lahir seorang manusia paling mulia dalam sejarah umat manusia. Lahir di kota Mekkah, riwayat Abdullah bin Abdul Muthalib secara keseluruhan adalah juga sejarah Abdul Muthalib, ayahandanya. Karena kelahiran Abdullah mengiringi sebuah cerita dramatik yang seakan menjadi pertanda penting dalam menentukan episode hidup Nabi SAW berikutnya.


RIWAYAT

Tak di ragukan lagi, Abdullah bin Abdul Muthalib adalah tokoh penting dalam agama Islam. Dari rahim istrinya, Aminah, Nabi Besar Muhammad SAW lahir. Dan di atas pundak Rasulullah Muhammad SAW, risalah Islam dibebankan untuk disampaikan ke penjuru dunia.

Namun sangat disayangkan, hanya secuil siluet perjalanan hidupnya yang terekam sejarah,

“Abdullah, ayah Rasulullah SAW tidak memiliki anak lelaki atau perempuan selain Muhammad. Dan di Madinah dia wafat bersama paman-pamannya dalam usia muda” tutur Muhammad Fawzi Hamzah dalam muqaddimah buku mininya “Abdullah Abun Nabi”.

Maka melalui tulisan padat dan singkat ini, penulis coba membentangkan jalan menyingkap tabir sejarah Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahanda Nabi SAW yang selama ini remang-remang.

Biasanya, dalam memprediksi tahun kelahiran seorang tokoh yang tidak hadir pada zamannya, sejarawan mengaitkannya pada kejadian besar yang pernah terjadi pada masa tokoh itu hidup, sebelum dia lahir atau pun setelah kematiannya. Seperti saat menentukan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW yang bersanding dekat dengan peristiwa diserangnya Ka’bah oleh tentara bergajah pimpinan Abrahah. Kemudian sejarah mengenalnya sebagai ‘amul fiil (tahun gajah) 570 M.

Uniknya, dalam kasus Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ada kejadian berdekatan yang bisa disandarkan untuk menentukan tahun kelahirannya. Hingga para sejarawan dalam menentukan tahun kelahirannya, perlu menarik jauh masanya sampai tahun gajah, di mana pada tahun itu pula anak semata wayangnya, Muhammad, lahir. DR. Haikal dalam “Hayat Muhammad”, mencoba membongkar misteri tahun kelahiran Abdullah, hingga terciptalah syajarah nasab (pohon nasab) yang memuat silsilah keluarga Nabi berikut tahun kelahirannya.

Qusay lahir tahun 400 M, Abdul Manaf 430 M, Hasyim 464 M, Abdul Muthalib 497 M, Abdullah 545 M, Muhammad SAW 570 M [bertepatan dengan tahun gajah, -red]. Berdasarkan perhitungan tersebut maka DR. Haikal menetapkan angka 25 sebagai usia wafatnya Abdullah bin Abdul Muthalib --terhitung sebelum tahun gajah. Tidak banyak sejarawan yang mencatat masa kecilnya, kecuali hanya sebuah deskripsi bahwa Abdullah, “... seorang yang paling bagus rupa dan akhlaqnya di antara suku Quraisy... dari wajahnya terpancar cahaya Nabi… seorang lelaki yang sedap di pandang di antara suku Quraisy... [Abdullah Abun Nabi, hal. 109].

Memang tidak ada seorang pun yang mampu melukis sosok Abdullah bin Abdul Muthalib secara detail. Namun mengikuti perkataan Nabi SAW bahwa saat seseorang semakin bertambah umurnya, dia akan semakin menyerupai bapaknya. Maka cukuplah meraba sosok Abdullah bin Abdul Muthalib dari sifat-sifat yang ada pada diri anaknya, Muhammad SAW.

* “Maka Rasulullah adalah keturunan Adam yang paling mulia, dan terbaik nasabnya dikarenakan bapak-ibunya”, Demikian Ibnu Hisyam dalam sirahnya.

Kembali sejarawan berselisih dalam menetapkan umur Abdullah bin Abdul Muthalib saat menikahi Aminah binti Wahab. Sebagian menyebut angka 18 tahun, dan lainnya mengatakan lebih dari itu. Al-Isti’ab menyebut umur Abdullah bin Abdul Muthalib saat menikahi Aminah mencapai 30 tahun, angka yang aneh jika dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat arab yang mengawinkan anaknya dalam usia muda.

Satu hal yang pasti dalam masalah ini, Abdullah bin Abdul Muthalib menikahi Aminah setelah lolos dari undian yang menentukan dia sebagai sembelihan bapaknya; satu-satunya peristiwa dramatik dari Abdullah bin Abdul Muthalib yang dikenang sejarah. Ahmad Taaji dalam sirah-nya [Sirah An-Nabi Al-Arabi 1: 42] menyebut umur Abdullah bin Abdul Muthalib saat itu 18 tahun.

ANA IBNU ADZ-DZABIHAINI

Dalam Mustadrak-nya, Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Mu’awiyyah yang mengisahkan Rasul pernah dipanggil dengan “Ibnu Adz-Dzabihaini” oleh sahabat Ibnu ‘Arabi. Beliau hanya tersenyum tanpa sedikitpun menyangkalnya.

Sahabat lain pun bertanya: “Siapa Dzabihaini itu ya Rasulullah?” “Mereka berdua Ismail dan Abdullah”, Jawab Rasul.

Bahkan, --dalam kaitannya dengan julukan Abdullah sebagai Adz-Dzabih-- Ibnu Burhanuddin, mengangkat sebuah hadits yang dengan bahasa telanjang Rasulullah menyebut dirinya, “Ana ibnu Dzabihaini”. Namun dia tidak mengingkari ke-gharib-an hadits ini dikarenakan dalam sanadnya ada satu periwayat yang majhul [tidak diketahui, -red]. Terlepas dari perdebatan ulama tentang status hadits pengakuan Nabi sebagai ibnu Dzabihaini, banyak hadits lain yang substansinya sejalan dengan klaim Nabi tersebut. Karena an sich-nya julukan Adz-Dzabih untuk Abdullah bin Abdul Muthalib berkaitan erat dengan kisah mimpi Abdul Muthalib yang diperintah Allah menggali sumur Zamzam. Banyak sekali hadits yang mengabarkan peristiwa ini dengan berbagai macam redaksi.

Maka sejarah Abdullah bin Abdul Muthalib bergulir dari sini. Saat itu pembesar Quraisy menentang keras hasrat Abdul Muthalib menggali sumur Zamzam, di karenakan letaknya yang berada di antara dua berhala, Ash dan Nailah. Selain itu, mereka juga mengetahui Abdul Muthalib tidak mempunyai apa dan siapa, kecuali seorang anak laki-laki yaitu Al-Harits. Masih ditambah lagi dengan aura homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia yang lain, -red) yang sedang menjangkiti kabilah-kabilah besar penguasa tanah arab. Maka lengkaplah alasan Abdul Muthalib untuk tidak berdaya.

Abdul Muthalib pun beranjak pergi dalam galau yang mendalam. Lalu berdiri di hadapan Ka’bah dan bernadzar kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Sa’ad yang sanadnya marfu’ sampai Abdullah bin Abbas (ra), menuturkan:

Ketika Abdul Muthalib bin Hasyim menyadari bahwa hanya sedikit kemampuan yang dia miliki untuk menggali Zamzam, dia pun bernadzar, “Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa mampu melindungiku saat aku menggali Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk korban”. Seiring perjalanan zaman, anak-anak Abdul Muthalib pun menjadi besar dan telah genap sepuluh orang. Abdul Muthalib berniat merealisasikan rencananya menggali Zamzam, sambil bersiap-siap mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan dari nadzar yang dia ucapkan.

Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil, Abdullah. Ketika nama Abdullah keluar dalam undian, maka orang yang ada di sekitarnya berusaha menolak, mereka mengatakan tidak akan membiarkan Abdullah disembelih. Abdullah saat itu terkenal sebagai seorang yang bersih, tidak pernah menyakiti siapa pun. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan jazirah Arab. Muatan rohaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia seolah taman bunga di tengah gurun sahara yang tandus. Sungguh Abdullah telah menarik simpati masyarakat di sekitarnya.

Oleh karena itu, semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami sebagai tebusan baginya, daripada ia yang harus disembelih. Tidak ada yang lebih baik dari dia. Pertimbangkanlah kembali masalah ini, dan biarkan kami bertanya kepada Kahin (Peramal-dukun)”.

Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian pembesar Quraisy mendatangi seorang Kahin. “Berapa taruhan yang kalian miliki?” Tanya Kahin. “Sepuluh ekor unta.” Jawab mereka. “Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika dalam pengundian yang keluar nama Abdullah lagi maka tambahlah sepuluh ekor unta, begitu seterusnya, hingga tidak keluar lagi nama Abdullah”, Perintah Kahin kepada mereka. Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan sepuluh ekor unta yang besar.

Undian itu pun masih selalu mengeluarkan nama Abdullah, dan Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, hingga saat jumlah unta mencapai seratus ekor maka keluarlah nama unta tersebut. Masyarakat begitu gembira hingga berlinang air mata, demi menyaksikan Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka’bah sebagai ganti Abdullah. Kedua hadits di atas [hadits pengakuan nabi sebagai ibnu Adz-Dzabihaini dan hadits kisah penyembelihan Abdullah] mengisyaratkan sebuah kongklusi, walau keduanya berbeda dalam status, namun keduanya bersepakat bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib adalah Adz-Dzabih sebagaimana Ismail. Maka tanpa melihat status gharibnya hadits “Ana Ibnu Ad-Dzabihaini”, Muhammad tetaplah ibnu Dzabihaini.

MISTERI KEMATIAN AYAHANDA RASULULLAH SAW

Rancangan jahat orang Yahudi membunuh Rasulullah SAW telah direncanakan sejak sebelum Rasulullah lahir. Usaha itu dilakukan bahkan ketika beliau masih berada dalam sulbi ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib dan saat berada dalam perut ibunya, Aminah. Setelah beliau lahir, usaha membunuh Beliau semakin menjadi-jadi.

Para dukun dan Rabi Yahudi berusaha keras membunuh Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi Muhammad SAW. Salah satu tokoh mereka mengatakan:

* “Siapkan makanan yang telah diberi racun yang sangat mematikan dan kemudian makanan itu berikan kepada Abdul Muthalib.”

Orang-orang Yahudi melakukan hal itu lewat para perempuan yang menutup wajahnya dengan kain. Setelah makanan tersebut selesai dibuat, mereka membawanya kepada Abdul Muthalib.

Ketika sampai di rumah Abdul Muthalib, isterinya keluar dan menyambut mereka. Mereka berkata:

* “Kami masih keturunan Abdi Manaf dan itu berarti masih famili jauh kalian.”

Mereka lantas memberikan makanan tersebut sebagai hadiah. Setelah mereka pergi, Abdul Muthalib berkata kepada keluarganya:

* “Kemarilah keluargaku, kita menyantap bersama apa yang dibawakan oleh famili jauh kita.”

Namun, saat mereka hendak memakan hidangan yang dibawa itu, terdengar suara dari makanan tersebut:

* “Kalian jangan memakan aku, karena aku telah diracuni oleh mereka.”

Keluarga Abdul Muthalib tidak jadi makan dan kemudian berusaha mencari tahu siapa para perempuan yang menghadiahi mereka hidangan itu. Namun selidik punya selidik mereka tidak berhasil mengetahui identitas mereka. Ini adalah salah satu tanda-tanda kenabian Rasulullah SAW sebelum lahir.

Tidak berhasil, kembali sekelompok Rahib Yahudi dengan memakai pakaian pedagang Syam memasuki kota Mekkah. Mereka sengaja datang ke sana untuk membunuh Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah SAW. Sejak awal mereka telah mempersiapkan pedang yang telah diolesi racun. Mereka dengan sabar menanti kesempatan untuk melaksanakan rencana yang telah dibuat jauh-jauh hari.

Suatu hari, Abdullah bin Abdul Muthalib keluar dari kota Mekkah untuk berburu. Orang-orang Yahudi melihat ini sebagai sebuah kesempatan bagus untuk membunuh Abdullah. Di suatu tempat mereka mengepung dan hendak membunuhnya. Namun lagi-lagi usaha mereka gagal, karena tiba-tiba ada sekelompok Bani Hasyim yang kembali dari perjalanan melalui tempat tersebut. Dan untuk kesekian kalinya Abdullah bin Abdul Muthalib berhasil selamat dari niat busuk orang-orang Yahudi.

Sempat terjadi bentrok antara orang-orang Yahudi dan Bani Hasyim yang berujung pada sejumlah pendeta Yahudi tewas dan sebagian lainnya ditawan dan dibawa kembali ke Madinah.

Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah SAW, meninggal secara misteri. Sebahagian ada yang meriwayatkan beliau meninggal pada umur 17 tahun sementara lainnya menyebutkan 25 tahun.

Kazruni dalam bukunya Al-Muntaqi menulis:

* “Abdullah bin Abdul Muthalib lahir tepat 24 tahun sejak masa pemerintahan Anushirvan, Raja Kisra. Ketika berumur 17 tahun, beliau menikah dengan Aminah. Ketika Aminah hamil Rasulullah SAW, Abdullah meninggal dunia di Madinah. Semua orang menuduh penyebab kematian Abdullah adalah orang-orang Yahudi. Mereka meracuni Abdullah. Karena ketika di Mekkah mereka berkali-kali berusaha membunuh Abdullah namun tidak sempat karena ada kendala. Bagaimana bila Abdullah ke Madinah yang di sana hidup banyak orang Yahudi?”

Tentunya, tujuan asli adalah Rasulullah SAW. Namun ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang menjadi korban.

WAFATNYA

Abdullah sakit dan wafat serta dikuburkan di kota Madinah ditempat keluarga neneknya Bani Adi bin Najaar, ketika melakukan perjalanan pulang berdagang dikota Madinah.

Dia dimakamkan di rumah An-Nabigha-Ju'di. Ia berumur dua puluh lima tahun ketika ia meninggal. Kebanyakan sejarawan menyatakan bahwa kematiannya adalah dua bulan sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beberapa orang lain mengatakan bahwa kematiannya adalah dua bulan setelah kelahiran Nabi SAW.

Abdullah bin Abdul Muthalib meninggalkan kekayaan sangat sedikit, yakni lima unta, sejumlah kecil kambing, seorang hamba sahaya, yaitu Ummu Aiman yang kelak kemudian akan menjadi pengasuh Nabi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Return top